Category Archives: Berbagi Cerita

Keajaiban Silaturahim & Berteman Yang Membawa Keberkahan

Pesan orangtua yang harus selalu diingat, jangan pernah putus tali silaturahim antar saudara. Hubungan keluarga tetaplah harus diutamakan dalam menjalani kehidupan ini. Pahami perbedaan antara Silaturahmi antar sesama manusia dan Silaturahim antar saudara kandung (keluarga). Grosir alquran untuk wakaf

Berteman dengan berbagai sifat dan watak manusia akan membuatmu menjadi bijaksana. Karena dari merekalah kita akan dilatih memahami makna toleransi dan menghargai perbedaan karakter.

Ada teman yang bersifat KERAS. Maka dari dialah sebetulnya yang mendidik kita untuk berani dan bersikap tegas. Ada teman yang LEMBUT. Maka dari dialah yang mengajarkan kepada kita cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Al Quran Syaamil Non Terjemah Mina

Ada teman yang CUEK dan tak perduli. Maka dari dialah sebetulnya yang membuat kita berpikir bagaimana agar kita bersikap sedikit perhatian terhadap orang lain. Ada teman yang tidak bisa dipercaya dan kata-katanya sulit dipegang kebenarannya. Maka dari dialah yang membuat kita berpikir dan merasa
betapa tidak enaknya dikhianati maka belajarlah untuk menjadi orang yang dapat dipercaya.

Ada teman yang JAHAT & JUDES yang hanya bisa memanfaatkan kebaikan orang lain saja, dari dialah kita bisa belajar, bgmn kita bertindak & bisa berbuat banyak kebaikan namun tetap waspada. Wakaf AlQuran souvenir 40 harian

Setiap karakter manusia di atas akan selalu baik & mendidik kita, bagaimana sebaiknya kita harus bersikap. Dengan menjalin silaturahim dan silaturahmi, maka atas ijin Alloh akan memperpanjang usia dan rezeki kita.

Advertisements

Seni Berdagang Itu…Tetaplah Indah…

Memiliki jiwa berdagang, wiraswasta, hingga membangun bisnis itu memang tak mudah. Dibutuhkan kerja keras usaha yang pantang menyerah. Membutuhkan mental dan bakat yang melekat pada jiwa kita sejak lahir. Dagang itu bicara tentang mental..bahwa dagang itu tak selalu laku, tak selalu mulus, kadang sepi pembeli, kadang untung sedikit, seringkali juga rugi banyak..

Kami memutuskan untuk fokus berniaga, berwiraswasta, sampai akhirnya fokus berhijrah ke Bandung. Membangun usaha dengan tujuan utama menggapai keberkahan-Nya. Dengan berniaga, kami berharap bisa memperbaiki kualitas ibadah. Bisa menikmati ibadah tanpa harus diburu-buru waktu jam istirahat yang terbatas. Karena dari pengalaman kami sebelumnya, sholat tepat waktu itu teramat sulit dengan status sebagai karyawan. Apalagi kerja di pabrik, yang harus di shift jam kerjanya.

Dan inilah yang harus dijalani, bagaimana pun Allah menentukan takdir-Nya. Meninggalkan pekerjaan yang sudah pasti mendapatkan gaji tetap per bulannya. Lalu harus keluar zona nyaman, memasuki zona tak nyaman. Bayangan ketakutan gak dapat penghasilan sebesar gaji sebelumnya.

Ya…inilah seninya berdagang. Saat laku…rejeki yang mengalir deras lah yang akan menguji pedagang untuk bersyukur dan tidak sombong, serta tidak melalaikan kewajiban ibadah. Tapi…disaat sepi penjualan, seperti kemarau yang kering, serba sulit. Maka sebaiknya juga tetap bersabar dalam taqwa. Yakin akan pertolongan-Nya.
Maka pedagang termasuk kami pun diuji dengan rasa pedih dan sabarnya.

Tetaplah harus diyakini bahwa, inilah jalan nafkah yang terkandung di dalamnya keberkahan yang berlimpah. Yang bisa memperbanyak teman & menambah kawan, juga menjalin tali siraturrohim yang erat kepada kerabat serta menjalin ukhuwah dengan para sahabat.

Inilah jalan nafkah para Rasul dan Sahabat lakukan. Berniaga, yang merupakan 9 dari 10 pintu rezeki, pintunya selalu terbuka bagi mereka yang mau bersusah payah tanpa keluh kesah.

Harta hasil berniaga, bukanlah semata mata kekayaan yang bisa kita dapatkan. Tapi, seberapa besar dari harta itu yang bisa bermanfaat untuk membahagiakan keluarga, juga orang lain. Karena kebahagiaan hakikatnya adalah disaat kita mampu membahagiakan keluarga dan orang lain yang membutuhkan. Semakin banyak uang yang kita dapatkan, semakin banyak yang bisa kita amalkan. Meskipun untuk beramal sholeh tak harus selalu dengan uang.

Maka, teruslah berdagang. Teruslah memburu omzet juga keuntungan. Sedikit atau banyak hasil yang didapat, maka itu tetaplah indah. Karena itulah seni dalam berdagang. Ada rasa syukur tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh seorang pedagang, baik dalam suka maupun duka. Dan kami sudah membuktikannya.

 

Kenapa Menghafal Al Quran Itu Penting??

Sebagai seorang ibu, tentunya memiliki harapan yang terbaik untuk kehidupan buah hatinya. Begitupun suamiku.. Salahsatu impian dan harapan terbesar kami adalah memiliki anak-anak penghafal quran, yang bertaqwa, sukses di dunia dan akhirat nanti. Bukan suatu hal yang berlebihan, pilihan sekolah untuk ke-empat buah hati kami, menjalankan program tahfidz al quran.

Banyak yang berpendapat dan mempertanyakan, apa pentingnya sih bersusah payah menghafal al quran? Kenapa Menghafal Al Quran Itu Penting??

Penting diketahui, bahwasanya Pada hari kiamat nanti, semua manusia berlari satu sama lain. Kecuali para hafidz AlQuran. Ia akan mencari kedua orang tuanya, untuk memasangkan mahkota kehormatan. Bahkan, mereka akan dipersilahkan untuk memasuki pintu surga yang manapun mereka mau.

Semua manusia derajatnya sama di hari Kiamat, kecuali para penghafal Al-qur’an. Segala penat dan lelah bersama Alquran saat menghapalnya, memperbaiki bacaannya, walaupun tidak ada apresiasi dunia dari orang lain, akan berbuah manis dengan kenikmatan dan ketenangan yang kekal hingga akhirat nanti.

Tak ada majelis seindah halaqah Alquran, tilawah yang merdu, yang berdengung di sekitarmu. Dan tiada cinta sebanding dengan cintanya ahlul quran. Salahsatu diantara keberkahan Alquran adalah Allah akan memberkahi akal orang yang membaca dan menghapalnya.

Maka kuatkan hubunganmu dengan Alquran, niscaya kamu akan mendapat keberkahan. Allah berfirman, “Kitab yang kami turunkan yang penuh berkah agar kalian tadabburi ayat-ayatnya“. Alquran akan melawan semua keperihan hidup. Alquran akan menghilangkan dahaga rohanimu dan menyatukan serpihan-serpihan hatimu.

Memahami & Mempersiapkan Status Janda

Bagi kebanyakan wanita, tentu amat sangat takut dengan kata “JANDA”. Entah itu pada wanita lain yang berstatus janda, apalagi jika takdir memaksanya jadi berstatus janda. Status pernikahan yang telah berakhir, karena perpisahan kematian atau perceraian, otomatis siap atau tidak, kata Janda akan melekat di status identitasnya.

Oiya, pernahkah kita coba merenungkan…;
Bagaimana rasanya sendiri?
Bagaimana rasanya sepi?
Bagaimana menahan airmata?
Bagaimana harus melakukan pekerjaan pria?
Jika belum….maka, jangan hina & remehkan mereka yang berstatus janda..

Wanita yang harus mencari nafkah untuk dirinya dan anak-anaknya itu tidak mudah. Ditambah harus mendidik dan menjaga anaknya sendiri itu pun sangat tidak mudah.
Wanita yang harus bisa menjaga keseimbangan antara tuntutan kebutuhan ekonomi keluarga dan menjaga kehormatan diri itu teramat sangat tidak mudah.

Mari, sadarilah…wanita kan tidak selamanya tetap bersuami. Ada saatnya harus berganti status, dengan penyebab yang berbeda..
Ada yang harus berpisah karena faktor batas usia (kematian), ada pula yang dikarenakan sikap tak bertanggungjawabnya laki-laki.
Jadi, ada saatnya nanti harus hidup sendiri, dituntut mandiri dan tegar demi masa depan anak-anak. Siapkah kita…???

Wanita berstatus janda, dengan “kesendirian” harus melakukan banyak hal..
Yang seharusnya itu bukan hanya tanggungjawabnya…
Maka semua butuh proses lebih.. Dan hanya bisa berserah diri pada-Nya.. Isilah hari-harimu dengan ayat-ayat-Nya. Sentiasa berpegang pada pedoman AlQuran. Karena keimanan & Ketaqwaan yang akan membantu kita untuk bisa menjalaninya. Maka..SABAR..SABAR.. dan SABAR..

 

Saat Tulang Rusuk Harus Menjadi Tulang Punggung

Banyak sekali kisah wanita tangguh, yang sudah dianggap biasa terjadi disekitar kita dalam kehidupan jaman now. Dimana sosok istri yang sebenarnya merupakan tulang rusuk dari seorang suami, harus bermetamorfosis menjadi tulang punggung.

Di dalam Al Qur’an dijelaskan, Alloh menciptakan wanita dari tulang rusuk lelaki, untuk menjadi bagian hidup suaminya. Memang tulang rusuk itu bengkok, maka hendaklah senantiasa perlu dibimbing dengan lemah lembut supaya tidak patah. Wanita itu harus dilindungi, dijaga sebaik-baiknya penuh cinta.

Jadi, terlalu berat bila ia harus menjadi tulang punggung juga. Jika tetap dipaksakan, maka anak-anak dan masa depan keluargamu akan berantakan. Anak-anak akan terbengkalai pendidikannya, dan bisa jadi tidak sesuai fitrah peradabannya kelak. Karena pasti akan sangat lelah berperan ganda, menjadi istri dengan segudang tugasnya di rumah, ditambah harus bekerja diluar rumah menjadi tulang punggung juga.

Para suami…coba ingatlah, peran istri bertaruh nyawa saat melahirkan anak-anak buah cinta kalian itu, yang merasakan sakit yang teramat sangat, seakan telah diremukan seluruh tulang dan memutus saraf-saraf dalam tubuhnya. Antara hidup dan mati, para istri berjuang demi kelahiran generasi pewaris keluargamu kelak.

Jadi, bagi laki-laki…berperanlah sebagai lelaki tangguh. Jangan bergantung pada penghasilan yang didapat oleh isteri mu. Kembalikan peran wanita sebagai tulang rusukmu. Yang akan menjaga dan melindungi organ penting dalam hidupmu, yaitu buah hatimu. Mendidik anak  yang menjadi penerus silsilah keluargamu.

Mengenal & Memahami Zona Nyaman Bagi Laki-Laki

Zona nyaman adalah perasaan tenang dan merasa nyaman dalam suatu lingkungan/hubungan terdekat di sekitarnya. Termasuk yang berhubungan dengan kebutuhan pribadi, lahir dan batin, yang sudah menjadi bagian hidupnya. Biasanya, bagi laki-laki normal setelah memiliki pasangan halal (memiliki istri), hatinya akan memasuki zona nyaman tersebut.

Ketika sudah memasuki zona nyaman tadi, maka laki-laki merasa bisa fokus pada hal lain dalam hidupnya. Tanpa harus memusingkan lagi urusan mencari pasangan hidup. Ia bisa lebih fokus pada karier, pekerjaan, organisasi, hobi, dll… Laki-laki pun meyakini bahwa isterinya juga nyaman berada di sampingnya.

Padahal, jika kurang memahami perbedaan otak laki-laki dan perempuan ini, akan menimbulkan kesalahfahaman antara pasutri. Karena sikap saling sibuk dan asyik mengerjakan urusan masing-masing, ini merupakan sebuah kedamaian dan kebahagiaan tersendiri bagi beberapa kalangan laki-laki.
Maka laki-laki terkesan berubah menjadi lebih cuek setelah menikah, padahal itu artinya dia sudah merasa nyaman dan stabil dengan isterinya itu.

Sikap seperti inilah yang oleh kebanyakan isteri disebut sebagai tidak romantis dan tidak peduli. Di mata isteri, suami kehilangan romantisme setelah berumah tangga, apalagi ketika sudah menempuh masa yang panjang.
Padahal si suami merasa tidak ada yang berubah dari dirinya. Bahkan dia merasa sudah sedemikian nyaman hidup berumah tangga, dan heran mengapa sang isteri masih mencari-cari kekurangannya.

Isteri menuduh suami tidak peka, tidak romantis dan tidak pengertian. Sedangkan suami menuduh isteri banyak menuntut dan mencari-cari masalah. Akibatnya pertengkaran pun terjadi dan saling menyalahkan satu sama lain. Hanya karena keduanya tidak mengerti kebutuhan pasangannya, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku dan suamiku dulu juga sering alami pertengkaran kecil, hanya karena masalah sepele. Dan juga perbedaan watak dan sifat kami yang bertolak belakang. Pertengkaran itu terjadi karena kita nya yang kurang memahami perbedaan zona nyaman laki-laki dan perempuan. Dan memang ternyata otak dan badan kita (laki-laki dan perempuan) diciptakan Alloh berbeda lho… Cari tau deh penjelasannya dr.Aisah Dahlan di youtube.

Jadi, suami dan istri, keduanya hanya perlu belajar lagi untuk memahami perbedaan sifat dan watak masing-masing. Yang memang diturunkan secara genetik. Coba dilatih dan dibiasakan untuk saling mengerti, saling memahami dan saling kompromi. Sering-seringlah komunikasi dua arah dengan suasana yang tenang, santai. Bila suami dan istri sudah mengerti apa yang dibutuhkan pasangannya, maka solusinya menjadi mudah mereka dapatkan.
Berusaha memahami pasangan, dan kemudian menentukan titik kompromi yang paling mungkin atas perbedaan diantara mereka.

Kata Ajaib Terimakasih Pada Pasangan Suami Istri

Pengalaman hidup membina rumah tangga sejak tahun 2001, memberikan banyak pengalaman yang nano-nano rasanya. Kadang manis, asam, asin, pahit, terpaksa harus ditelan dan dinikmati bersama. Karena menyatukan dua watak genetik laki-laki dan perempuan itu tidak mudah. Dan memang Alloh ciptakan kita semua ini berbeda karakternya.

Ada saatnya, (berdasarkan pengalaman pribadi…) Seorang istri menangis (diam-diam) ditengah malam, ketika semua sudah terlelap dalam tidur. Ia merasa sangat lelah dengan semua pekerjaannya. Bangun paling pagi dan tidur paling larut setiap harinya. Menghadapi pekerjaan yang itu itu saja, belum lagi saat kondisi anak rewel dan sakit, semuanya terasa sangat melelahkan dan tak ada yang peduli padanya.

Rasa kesal si istri ini semakin bertambah ketika suami pulang kerja, hanya langsung istirahat dan sibuk dengan hp nya. Si suami merasa sudah lelah, cape dan tidak memberi perhatian ke istrinya. Padahal si istri ini mau curhat ke suami. Tapi ditanggapi dingin dengan sikap seperti gak peduli. Apalagi jika si suami ini (gak pernah taklim) dan beranggapan si istri hanya enak-enakan saja di rumah.

Sehingga, keduanya saling larut dalam prasangkanya. Semakin lama sang istri akan merasa suaminya sudah gak sayang lagi padanya dan berprasangka ada sosok wanita lain dalam hati suaminya.. Masalah-masalah yang terlihat sepele, akan menjadi besar menimbulkan pertengkaran, perang dingin, bahkan bisa berujung kepada perpisahan. Jika terus dibiarkan berlarut-larut, tanpa ada perubahan dalam membina hubungan baik antara pasutri.

Memang benar, membangun rumah tangga bukan hanya soal memberi tapi juga menerima, dan juga berterimakasih. Apapun yang diberikan oleh pasangan. Dengan saling memahami bahwa mereka berdua sama-sama lelah dan bekerja keras dalam versinya masing-masing. Yang terpenting bukan siapa yang paling banyak pengorbanannya, tetapi rasa saling menghargai dan perhatian kepada pasangan, sekecil apapun itu.

InshaaAllah perhatian kecil pun bisa melunakkan hati pasangan kita. Komunikasi perbincangan santai berdua, saling mengungkapkan rasa terimakasih, sambil menikmati teh hangat, pijatan dan belaian lembut, maka seketika rasa lelah berganti dengan rasa ikhlas, dan tak lagi merasa bekerja paling keras.
Sudahkah hari ini kita ucapkan terimakasih kepada pasangan?

Metamor”PROSES” Dalam Kehidupan Rumah Tangga

Setelah mantap memutuskan untuk membina rumah tangga dengan seseorang yang kita pilih, maka otomatis akan merubah kehidupan dua insan dan dua keluarga besar. Gerbang kehidupan berkeluarga yang tidak dipelajari detail di sekolah formal. Intinya harus siap lahir batin, learning by doing..

Seperti hal nya kupu-kupu, memulai proses dari telur menjadi seekor ulat kecil yang dihindari banyak orang. Dari ulat menjadi kepompong yang menggantung di dahan pohon, merasakan panas terik yang menyengat dan dingin malam yang menusuk.
Mampukah kita belajar dari kupu-kupu?
Lemah saat menjadi telur, dibenci dan dijauhi saat menjadi ulat, menghadapi rintangan dan kesulitan saat menjadi kepompong, memberikan keindahan dan manfaat bagi sekitarnya saat menjadi kupu-kupu.

Kehidupan yang harus bersinergi dengan pasangan halal kita, menuntut kelapangan hati dan kesabaran. Menyatukan dua pribadi dan keluarga yang berbeda pola asuh, pola pemikiran & budaya. Bukan untuk dipaksa berubah oleh pihak yang merasa lebih kuat. Tapi kembali lagi ke tujuan awal pernikahan, menuju rumah tangga yang sakinah mawaddah wa rohmah. Menggapai keridha-an Alloh hingga ke Jannah-Nya. Tinggal mengikuti aturan, pedoman dalam Al-Quran dan sunnah.

Setiap masalah yang datang silih berganti, akan menguji kekuatan ikatan suci.  Apalagi bagi pasangan yang memulai kehidupan berumah tangga dari kondisi serba pas-pasan. Rumah masih ngontrak, belum punya kendaraan motor, tuntutan nafkah uang belanja, dll..

Segala bentuk kesulitan yang dihadapi memang pahit layaknya jamu, tetapi bisa menyembuhkan. Dan kesuksesan dalam membina rumah tangga memang indah layaknya kupu-kupu, tapi membutuhkan proses yang berliku untuk bisa indah, dan bisa dinikmati keindahannya oleh orang-orang disekitarnya.

Mari bersama-sama dengan pasangan, saling belajar berproses menjadi kupu-kupu yang indah. Mau melewati setiap prosesnya, berani mengambil risiko bersama, serta tetap terus belajar dan belajar lagi, lagi, dan lagi. Yakinlah, itu semua merupakan proses yang pasti bisa dijalani bersama. Saling asah, asih dan asuh dengan pasangan. Saling mendukung demi masa depan dan cita-cita berkeluarga yang harmonis.