Seni Berdagang Itu…Tetaplah Indah…

Memiliki jiwa berdagang, wiraswasta, hingga membangun bisnis itu memang tak mudah. Dibutuhkan kerja keras usaha yang pantang menyerah. Membutuhkan mental dan bakat yang melekat pada jiwa kita sejak lahir. Dagang itu bicara tentang mental..bahwa dagang itu tak selalu laku, tak selalu mulus, kadang sepi pembeli, kadang untung sedikit, seringkali juga rugi banyak..

Kami memutuskan untuk fokus berniaga, berwiraswasta, sampai akhirnya fokus berhijrah ke Bandung. Membangun usaha dengan tujuan utama menggapai keberkahan-Nya. Dengan berniaga, kami berharap bisa memperbaiki kualitas ibadah. Bisa menikmati ibadah tanpa harus diburu-buru waktu jam istirahat yang terbatas. Karena dari pengalaman kami sebelumnya, sholat tepat waktu itu teramat sulit dengan status sebagai karyawan. Apalagi kerja di pabrik, yang harus di shift jam kerjanya.

Dan inilah yang harus dijalani, bagaimana pun Allah menentukan takdir-Nya. Meninggalkan pekerjaan yang sudah pasti mendapatkan gaji tetap per bulannya. Lalu harus keluar zona nyaman, memasuki zona tak nyaman. Bayangan ketakutan gak dapat penghasilan sebesar gaji sebelumnya.

Ya…inilah seninya berdagang. Saat laku…rejeki yang mengalir deras lah yang akan menguji pedagang untuk bersyukur dan tidak sombong, serta tidak melalaikan kewajiban ibadah. Tapi…disaat sepi penjualan, seperti kemarau yang kering, serba sulit. Maka sebaiknya juga tetap bersabar dalam taqwa. Yakin akan pertolongan-Nya.
Maka pedagang termasuk kami pun diuji dengan rasa pedih dan sabarnya.

Tetaplah harus diyakini bahwa, inilah jalan nafkah yang terkandung di dalamnya keberkahan yang berlimpah. Yang bisa memperbanyak teman & menambah kawan, juga menjalin tali siraturrohim yang erat kepada kerabat serta menjalin ukhuwah dengan para sahabat.

Inilah jalan nafkah para Rasul dan Sahabat lakukan. Berniaga, yang merupakan 9 dari 10 pintu rezeki, pintunya selalu terbuka bagi mereka yang mau bersusah payah tanpa keluh kesah.

Harta hasil berniaga, bukanlah semata mata kekayaan yang bisa kita dapatkan. Tapi, seberapa besar dari harta itu yang bisa bermanfaat untuk membahagiakan keluarga, juga orang lain. Karena kebahagiaan hakikatnya adalah disaat kita mampu membahagiakan keluarga dan orang lain yang membutuhkan. Semakin banyak uang yang kita dapatkan, semakin banyak yang bisa kita amalkan. Meskipun untuk beramal sholeh tak harus selalu dengan uang.

Maka, teruslah berdagang. Teruslah memburu omzet juga keuntungan. Sedikit atau banyak hasil yang didapat, maka itu tetaplah indah. Karena itulah seni dalam berdagang. Ada rasa syukur tersendiri yang hanya bisa dirasakan oleh seorang pedagang, baik dalam suka maupun duka. Dan kami sudah membuktikannya.

 

Comments are closed.