Galeri

Beda Gaya Beda Cara

Para orangtua super yang sangat konsern dengan pendidikan anak, pasti sudah menemukan gaya belajar anak-anaknya kan? (baca : Kenali Gaya Belajar Anak)

Salah satu hal yang mempengaruhi efektivitas belajar anak-anak adalah gaya belajar mereka. Walaupun gaya belajar bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar, pemahaman terhadap gaya belajar dan stimulus yang sesuai dengan gaya belajar akan meningkatkan efektivitas proses pembelajaran.

Jika kita sudah mengetahui gaya belajar anak-anak, terus bagaimana? Apa yang dapat kita lakukan selanjutnya? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan para orangtua super setelah mengetahui kecenderungan gaya belajar anak.

1. Berikan Stimulus yang Tepat
Dengan mengenali gaya belajar anak, orangtua dapat lebih berempati dengan anak-anak. Komunikasi dengan anak dapat menjadi lebih baik karena ketegangan dan kemarahan-kemarahan yang tidak perlu dapat dihindarkan. Orangtua tidak perlu bersitegang dan khawatir melihat anak-anak memiliki gaya belajar yang berbeda dibandingkan yang lazim dijalankan di sekolah.

Dengan lebih memahami gaya belajar anak-anak, orangtua dapat merancang program-program pembelajaran yang sesuai dengan kecenderungan gaya belajar anak. Dalam proses komunikasi dialogis dengan anak, proses belajar di rumah akan menjadi semakin menyenangkan. Belajar bukan lagi dilihat sebagai sebuah kewajiban yang membebani, tetapi sebagai kegiatan yang menyenangkan dan dibutuhkan oleh anak-anak sendiri.

Ketika anak-anak menyukai proses belajarnya, banyak hal-hal positif yang akan terbangun di dalam kehidupan anak-anak. Anak-anak merasa nyaman dengan dirinya sendiri karena dia tak dituntut menjadi orang lain. Anak-anak pun mengenali kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

2. Kembangkan Kreativitas
Dengan mengenali gaya belajar, orangtua dapat lebih longgar dalam hal cara dan metode belajar yang dijalani anak. Orangtua dapat lebih berkonsentrasi untuk membantu anak-anak menentukan kompetensi-kompetensi apa yang hendak diraih dan dikuasai. Sementara itu, proses belajarnya dapat dilakukan dalam dialog bersama antara orangtua dan anak, dengan suasana yang menyenangkan.

Untuk merancang program pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar anak, kembangkan kreativitas untuk menggunakan hal-hal yang tersedia sehari-hari di sekitar rumah. Jika Anda kekurangan ide belajar, cari lewat internet mengenai ide-ide belajar. Anda dapat memodifikasi ide-ide belajar itu sesuai kebutuhan dan keadaan Anda.

Kreativitas ini diperlukan agar orangtua tidak terbebani dengan keharusan membeli produk-produk baru yang sesuai dengan gaya belajar anak. Membeli barang adalah sebuah pilihan yang tidak semua orangtua memiliki daya beli yang sama. Kreativitas dapat menjadi pilihan lain yang bukan hanya lebih murah, tetapi bisa menjadi sangat menyenangkan dan murah.

3. Perkenalkan Gaya Belajar Lain
Apakah anak harus belajar dengan cara gaya belajar yang disukainya saja?

Tentu saja tidak. Para orangtua juga hendaknya tetap memperkenalkan gaya belajar lain agar anak-anak juga memiliki kemampuan beradaptasi dan menyesuaikan diri. Kemampuan beradaptasi itu diperlukan untuk bekal hidupnya saat dewasa nanti. Hanya saja, perkenalan dengan gaya belajar lain itu tak lagi menjadi sebuah “keharusan” yang dipaksakan, tetapi dilakukan dengan kesadaran untuk memperbaiki sisi lemah anak.

Sebagai contoh, anak pembelajar sendiri (intrapersonal) belajar secara efektif dengan menggunakan modul-modul belajar mandiri. Tapi, anak penyendiri biasanya memiliki kekurangan dalam kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Orangtua yang memiliki anak-anak yang memiliki gaya belajar penyendiri (intrapersonal) biasanya juga membantu anak-anaknya untuk berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak intrapersonal juga perlu belajar dengan berinteraksi bersama orang lain karena hal itu juga diperlukan, baik untuk kehidupan sosial maupun profesionalnya nanti.

Contoh tersebut dapat diterapkan dalam berbagai gaya belajar anak. Intinya adalah fokus pada gaya belajar yang paling sesuai. Tetapi, pada saat bersamaan orangtua mengkompensasi kelemahan anak agar tidak menjadi sebuah hal yang membebani anak saat dewasanya nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s