Wanita Perlu Mandiri

“Ah, saya lebih suka di rumah, mbak, cukup suami saya saja yang bekerja, dan saya terima apa adanya yang diberikan suami, kalo ada uang kita belanja agak banyakan, tapi kalo tidak ada uang kita amalkan shaum sunnah, semua saya terima dengan ikhas, yang penting apa yang diberikan suami saya ke saya didapatkan dari pekerjaan yang halal, yaa tho mbak?“

Memang takdir seorang wanita adalah di rumah. Mengabdi pada suami dan anak-anak. Bersikap qona’ah atau menerima apa adanya, memang dianjurkan dalam Islam. Tetapi, bila seorang wanita tidak mau membantu suami mencari nafkah, walaupun keadaan pas-pasan bahkan kekurangan, bijak-kah???

Maka, salahkah bila wanita bersikap lebih realsitis dengan kebutuhan hidup yang begitu banyak?

Jadi, mulailah mencari nafkah dengan bekerja apa saja yang penting halal dan tidak menyita banyak waktu untuk keluarga. Sehingga bisa membantu suami walau sekedar memberi uang jajan anak-anak dan memenuhi kebutuhan keluarga dari hasil kerjanya.Apabila kondisi suami sudah mapan, wanita tetap boleh bekerja mencari penghasilan sendiri. Tentunya dengan izin dari suami dan anak-anak. Nah… penghasilannya kan bisa juga ditabung untuk persiapan kedepannya. Atau bisa ikut program asuransi (harus yang syari’ah). Karena masa depan adalah hal yang misteri. Ini perlu dilakukan, demi masa depan anak-anak. Terutama untuk biaya pendidikannya nanti.

Bayangkan, para ibu rumah tangga bila suaminya tiba-tiba mengalami kecelakan kerja (na’udzubillah min dzalik) atau tiba-tiba dipanggil Yang Maha Kuasa atau dikarenakan sebab lain, “pergi” meninggalkan istri, anak-anak dan keluarganya. Apakah sang istri harus meminta-minta belas kasihan para tetangga atau saudara? Bagaimana dengan anak-anak? Apakah harus putus sekolah karena tak ada biaya?

Jadi…, kita harus “sedia payung sebelum hujan”. Persiapkan diri kita dan keluarga sedini mungkin. Kita hanya berusaha mengurangi resiko yang pasti terjadi bila suami ditakdirkan “pergi” lebih dulu.

Karena itu selagi masih dalam keadan kuat, berusahalah mencari pendapatan walau sedikit, paling tidak bila sudah tecukupi semua kebutuhan, kita dapat menggunakannya untuk bersedekah dengan uang hasil jerih payah kita sendiri

Mari mencontoh Bunda Zainab, wanita yang tangannya paling panjang karena beliau didapati bekerja dengan jerih payahnya lalu beliau besedekah. Subhanallah sikap istri seorang pemimpin besar yang jarang ada pada zaman apapun.

So…., para wanita wajib dan perlu untuk mandiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s